url submit DPD LDII Kab Bekasi: LDII
Tampilkan postingan dengan label LDII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LDII. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Mei 2013

Relokasi Warga Bantaran Kali, Jokowi Minta Bantuan LDII

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Foto: Dede/Okezone)



JAKARTA - Usai menyerahkan laporan keuangan di Gedung Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mendatangi kantor DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), di bilangan Senayan, Jakarta.

Mantan Wali Kota Solo itu meminta bantuan tokoh-tokoh LDII untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang tinggal di bantaran kali agar mau direlokasi.

"Karena tahun ini ingin merelokasi warga yang berada di Ciliwung, Pesanggrahan, Angke, Sunter. Saya lihat LDII banyak tersebar di sana. Saya titip rasa sosialisasi ke sana tentang program DKI yang akan dilaksanakan. Saya lihat sekarang tokoh agama lebih dipercaya, sehingga penyampaiannya lebih bisa mengena," ujar Jokowi, Kamis (28/3/2013).

Jokowi meminta para ulama LDII untuk memberi pemahaman tentang bahaya tinggal di pinggiran sungai, termasuk larangan undang-undang untuk tinggal di lokasi tersebut.

Selain tentang relokasi, Jokowi juga meminta LDII untuk melakukan sosialisasi terkait Kartu Jakarta Sehat (KJS) dan Kartu Jakarta Pintar (KJP). Jokowi menegaskan KJS dan KJP hanya untuk warga miskin dan rentan miskin.

"Mereka juga tolong diberikan pemahaman tentang ini (KJS dan KJS) bahwa program ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Saya kemarin ke sana, tapi enggak nyinggung tentang relokasi. Saya cuma ngasih buku, tas dan beras," kata Jokowi.

Terakhir, Jokowi meminta LDII memberi pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya pengawasan dan transparansi keuangan melalui penempelan poster APBD. "Saya ingin perpindahan tanpa ribut dan masalah," tutup Jokowi.



sumber: Aisyahokezone.com

Minggu, 14 April 2013

Ponpes LDII Mendapat Kunjungan Gubernur DKI Jakarta





Tidak disangka-sangka, Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin kedatangan tamu istimewa. Jumat 12 April 2013 lalu Gubernur DKI Jakarta, Bapak Ir. H. Joko Widodo, menyempatkan diri untuk ber-silaturrahim kepada beberapa sesepuh Pondok Minhaajurrosyidiin. Hal ini tentu sangat diapresiasi oleh pihak Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin, mengingat orang nomor satu di DKI Jakarta ini mempunyai jadwal kerja yang luar biasa padat.


Adanya kunjungan silaturrahim ini pula menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin siap mendukung program Bapak Gubernur DKI Jakarta untuk menciptakan Jakarta Baru. “Saya yakin jika Jakarta Baru terwujud, maka Indonesia Baru akan terwujud pula,” jelas pak Jokowi beberapa waktu lalu.

Sumber: http://minhaajurrosyidiin.com/

Sabtu, 23 Maret 2013

LDII Aliran Sesat, Isu Kesesatan LDII? Basi ah...


Media cetak dan elektronik adalah alat strategis membangun masyarakat yang cerdas secara emosional, intelektual dan spiritual. Namun disayangkan masih ada segelnitir media meniupkan informasi yang tidak berimbang, kental dengan aroma prejudice dan cenderung menghakimi yang nyata-nyata ini akan melemahkan persatuan bangsa, padahal percepatan penyelesaian permasalahan bangsa yang begitu kompleks sangat membutuhkan sinergi dari semua komponen bangsa, dalam hal ini berarti persatuan mutlak diperlukan. Sekali lagi, Persatuan Mutlak Diperlukan!
Ketika kita Googling dengan key word LDII, hingga kini masih saja "berseliweran" sumber-sumber informasi yang masih meniupkan isu aliran sesat, kesesatan LDII atau LDII sesat. Padahal semua itu sudah basi. LDII, seperti halnya ormas Islam yang lain berkiprah dan berkontribusi positif dalam pembangunan bangsa.

Sangat disesalkan, saat ini masih ada media informasi baik cetak maupun elektronik yang memberikan informasi yang isinya kontra produktif dengan pembangunan bangsa dalam kerangka persatuan. Seperti terjadi pada kasus hukum di Riau bulan November 2008 yang dialamai Ustadz Hajarullah Aswad dan di Bekasi tahun 2006 dialami oleh Bambang Irawan Hafiluddin adalah peristiwa yang seharusnya tidak terjadi. Sebuah buku dan sumber informasi yang diambil tanpa dilakukan cross check and balance telah menjerumuskan mereka sehingga berurusan dengan hukum.
Padahal mengenai hukum sebagai landasan muslim dalam berfikir, bertutur, bersikap, bertindak Baginda Rasulullah SAW pernah bersabda:
تَرَكْتُ فِيْكُمْ اَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ الله وَسُنَّةَ نَبِيّهِ
H.R. Malik fii Mu’ato
Artinya: “Aku (Nabi) telah meninggalkan di kalangan kalian dua perkara, yang mana kalian tidak akan sesat (pasti kebenarannya) selama berpegang teguh pada keduanya, yaitu; Kitab-Nya Alloh (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya (Al Hadits).”
Jadi, jelaslah hanya kepada Al-Qur’an dan Al Hadits lah seyogyanya kita melandaskan sikap dan tutur kita dalam men-justifikasi sesuatu, sedangkan buku-buku yang dikarang seseorang cukuplah kita jadikan pustaka wawasan pengetahuan kita saja, bukan dijadikan landasan hukum dalam bersikap dan bertutur dalam kehidupan beragama.
Maka kasus Riau dan Bekasi saja cukup sudah, semoga menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam untuk mengedepankan ukuwah dan kita berharap tidak ada lagi kasus serupa dimasa yang akan datang, stop gossip klasik Kesesatan LDII, stop wasting energy. Ayo umat Islam bersatu, mari gunakan energy kita untuk membangun bangsa!
Firman Alloh SWT dalam Al-Qur’an:
اِنَّمَا الْمُوءْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمَ , وَتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Q.S. Al Hujurot: 10
Artinya: “Sesungguhnya orang beriman itu menyaudara, maka berbuat baiklah diantara sesama saudara dan takutlah kepada Alloh agar engkau disayangi.”
Warga LDII adalah umat ISLAM yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an sebagai kitab sucinya dan Al Hadits sebagai sunnahnya, Nabi Muhammad SAW menjadi panutan teladan budi pekertinya, Rukun Islamnya ada 5 (Syahadat, Shalat 5 waktu, Puasa, Zakat & Haji), Rukun Imannya ada 6 (Iman kepada Alloh SWT, Iman kepada Al-Qur’an, Iman kepada Malikat, Iman kepada Nabiyullah, Iman kepada Hari Akhir & Iman kepada Qada-Qodr).
Namun, jika masih ada saudara-saudara muslim yang masih penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan seputar LDII, sebagai counter balance silahkan dapatkan informasinya di situs resmi www.ldii.or.id
Sekali lagi kami mengajak;
Stop wasting Energy dengan hanya bergosip klasik,
Menyebarkan isu aliran sesat
Mengatakan LDII sesat
Berkutat dengan yang itu-itu lagi
Kesesatan LDII
INGATLAH!
Masih banyak permasalahan bangsa yang lebih penting,
Ayo lakukan sesuatu untuk membangun bangsa ini,
Mari bersatu umat Islam,
Mari bersatu Bangsa Indonesia.
Lihatlah bangsa ini, dengan populasi sebesar 222 juta jiwa pada tahun 2006, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, meskipun secara resmi bukanlah negara Islam. Oleh karena itu dengan dinamika pertumbuhan hingga 2009 ini permasalahan bangsa semakin kompleks; berdasar Socio-Indicator of Indonesia yang dikeluarkan Oktober 2008 oleh BPS, prosentase penduduk miskin tahun 2007 mencapai 16.58% padahal tahun 2005 adalah 15.97%, masih ada 7.51% penduduk 10 th keatas tahun 2007 yang buta huruf, angka pengangguran terbuka tahun 2007 mencapai 9.11% dan rata-rata kebutuhan hidup minimum provinsi tahun 2007 naik dari tahun sebelumnya menjadi Rp 766.350.
Permasalahan bangsa ini menjadi tanggung jawab bersama dan membutuhkan peran serta semua komponen bangsa, tidak hanya pemerintah. Ayo bersatu!

(By FI, Cikarang 23 March 2013)

Selasa, 19 Maret 2013

CINGKRANG



"Eh, kenapa sih warga LDII laki-lakinya kalau bercelana atau bersarung suka cingkrang?" Kira-kira begitu yang sering terdengar takala seseorang berkomentar mengenai cara berpakaian warga LDII yang hampir setiap hari mengadakan kajian baik Al Qur'an maupun Al Hadits ini.
Tidak jarang beberapa orang yang dengan nada enteng dengan setengah mencibir berkata "Mas, kebanjiran ya? Apa takut cacing", namun bagi warga LDII sindiran-sindiran semacam itu sudah biasa, warga LDII sangat memaklumi bahwa tidak semua orang tahu dan faham untuk mengamalkan hukum-hukum yang ada di dalam Al Qur'an dan Al Hadits. Boleh jadi ada yang tahu mengenai hukum berpakaian tetapi untuk faham dan berani mengamalkannya adalah sesuatu yang berbeda.
Warga LDII dalam mengkaji hukum-hukum tersebut tidak cukup sebatas sampai tahu saja tetapi benar-benar difahami dan diamalkan, dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari, begitu juga dengan hukum berpakaian ini.
Dari Ibnu Umar ra, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Barangsiapa memanjangkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat.” Kemudian Abu Bakar rabertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya sarungku melebihi mata kaki, kecuali aku menyingsingkannya.” Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, “Kamu bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.” (HR. Al Bukhari dan sebagiannya diriwayatkan Muslim)
Hadits ini yang banyak dijadikan hujjah untuk boleh bercelana nglembreh; yang penting tidak sombong. Padahal kalau mau lebih cermat lagi, kunci hadits di atas adalah perkataan Abu Bakar menyingsingkan. Namun kalau masih bersikukuh asal tidak sombong bolehlah. Daripada bertengkar, coba kita tengok yang satu ini.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: "Suatu ketika ada seseorang shalat dengan memanjangkan kain sampai di bawah mata kaki. Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda kepadanya, "Pergilah dan berwudhulah." Lalu ia pergi dan berwudhu. Kemudian ia datang dan Nabi bersabda, "Pergilah dan berwudhulah." Kemudian ada seorang laki-laki bertanya kepada beliau, "Ya Rasulallah, kenapa Anda menyuruhnya untuk berwudhu lalu Anda diamkan?" Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, "Karena ia shalat dengan memakai kain sampai di bawah mata kaki; Sesungguhnya Allah tidak akan menerima shalat seseorang yang memakai kain sampai di bawah mata kaki." (HR. Abu Dawud dengan isnad Shahih sesuai syarat Muslim)
Nah, kalau sholatnya tidak diterima karena celana nglembreh, terus bagaimana? Padahal semua tahukan, sholat adalah amalan paling pol dan pertama ditanya nanti di hari Qiyamat. Gara – gara kita memakai pakaian nglembreh terus sholat gak diterima, wassalam sudah. Bagi yang penasaran boleh juga membaca komentar Imam al-Buwaithi dari al-Syafi’i dalam Mukhtasharnya. Ia berkata, “Isbal dalam shalat maupun di luar shalat karena sombong dan karena sebab lainnya tidak diperbolehkan. Ini didasarkan pada perkataan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam kepada Abu Bakar Radhiyallahu 'Anhu.” Wuih teges banget imam ini. Di sudut sana ada yang berkilah, kan kalau sholat dilinting (dinaikkan) celananya? Baik, kita baca yang satu ini.
Dari Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallambersabda,"Kain (sarung/pakaian) seorang muslim adalah sampai pertengahan betis. Dan tidaklah berdosa jika ada di antara betis dan dua mata kaki. Adapun yang sampai di bawah kedua mata kaki, maka ia berada di neraka. Siapa yang menjulurkan kainnya di bawah mata kaki dengan sombong, maka Allah tidak akan melihatnya." (HR. Abu Dawud dengan isnad shahih)
Berhubung hadits ini masih ada kata – kata sombong, maka terkesan kurang afdhol. Karena akan mirip dengan yang atas. Sekarang kita simak yang singkat ini.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda,"Apa-apa yang berada di bawah mati kaki itu berada dalam neraka." (HR. Al-Bukhari).
Nah, kalau tiga hadits ini belum menyentuh hati, ya sudah. Gak apa – apa. Hidup adalah pilihan, dalam arti semua nanti akan dipertanggungjawabkan masing – masing. Tidak perlu kita geger masalah cingkrang ini, cukup tahu sama tahu. Kalau mau mengikuti ya syukur, kalau tidak ya diri sendirilah yang menentukan. Bahkan Imam Muslim dalah Shahihnya menerangkan dengan tegas larangan/haramnya isbal (menjulurkan kain di bawah mati kaki) ini.
"Bab: Keterangan beratnya keharaman menjulurkan kain (di bawah mata kaki;- disebut Isbal-), mengungkit-ungkit pemberian, menjual barang dagangan dengan sumpah palsu adalah tiga golongan yang mereka tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, Allah tidak akan melihat mereka dan menyucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang pedih."
Dari Abu Dzar Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda: "Tiga orang yang bakal tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, Allah tidak akan melihat dan menyucikan mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih." Abu Dzar berkata, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam membacanya sebanyak tiga kali". Abu Dzar berkata, "Kecewa benar mereka dan sangat merugi. Siapakah mereka itu ya Rasulallah?" Beliau menjawab, "Yaitu orang yang menurunkan kain di bawah mata kaki (musbil), orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya (al-Mannan), dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu." (HR Muslim)

(By Faizunal Abdillah, edited by FI)
G8B2EXUY2XM6